Jhon Hendri Sangau2

(BorneoBangkit, Sanggau) Kepala Dinas ketahanan pangan, tanaman pangan, holtikultura dan perikanan (Dishangpan hortikan), Jhon Hendri mengatakan hasil produksi beras di Kabupaten Sanggau tahun 2016 berlebih. Tercatat sebanyak 231.000 ton beras dihasilkan selama tahun 2016 dan apabila dihitung jumlah penduduk serta konsumsinya yang hanya berada di kisaran 141.000 ton, maka Sanggau Surplus beras 90.000 ton.

“Kalau bicara swasembada kita sudah swasembada karena kita telah surplus beras,” ujarnya. Namun, saat ini Dishangpan hortikan masih lemah dalam hal pemasaran. “Luas tanam kita hingga 2016 itu lebih kurang 69.000 hektar, artinya selama dua musimlah ya dan kita juga dapat tambahan 4.800 hektar 2016. Nah sekarang inilah yang kita garap,” katanya kepada BorneoBangkit.com.

Jhon Hendri optimias Kabupaten Sanggau mampu mencapai ketahanan pangan. Hal itu berdasarkan luasan lahan sawah pada tahun 2015 tercatat seluas 55.000 hektar dan ditambah cetak sawah tahun 2015 1.000 hektar, pada tahun 2016 seluas 4.800.

Jhon Hendri Sangau

“Nah, siapa yang akan memasarkan ini. Saya juga sudah menyampaikan kepada para pengusaha kita dan ada banyak yang tertarik. Maksud saya jangan lagi kita bebankan lagi pemasaran ini kepada petani, petani itu tugasnya memproduksi saja, perlu kita cari pengusaha yang mau untuk memasarkan,” katanya. Jika bicara ekspor, di Kalbar sudah ada 11.000 ton beras diekspor. Dirinya mengakui inikan belum mendapatkan pengusaha yang konsentrasi di urusan Beras, contohnya, beras Sanggau ada yang ke Kubu Raya, ada yang ke Kalteng, Dengan kelebihan beras atau surplus tadi, Dishangpan hortikan sudah memulai untuk melakukan pemasaran dengan berbagai persiapan.

Beberapa bahkan sudah ada dijual dalam kemasan diantaranya beras “Cap Bandong”. yang sudah menjual itu ada misalnya, Tebang Benua Tayan, Mak Kawing, Mandong, Parindu dan Kembayan. 2016 lalu mereka lakukan transaksi jual beli,” katanya. Salah satu kendala yang dihadapai dalam pemasaran beras ini, diakui John Hendri adalah adat istiadat atau stigma masyarakat yang sudah lama ada yaitu “Pamalik Menjual Beras”. “Nah, stigma itu perlahan-lahan kita ubah agar ekonomi masyarakat berubah karena mendapatkan penghasilan dari beras,” tuturnya. (Hery Darmawansyah)


Tags:
Share:

Mr Borneo

Leave a Comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.