(BorneoBangkit, Samarinda) Pasca Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Pelabuhan Samarinda, Kalimantan Timur beberapa waktu lalu berdampak ribuan buruh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Komura. Mereka harus lama menganggur alias tidak bekerja dan bahkan beberapa belum menerima upah lantaran uang kas di sita sebagai barang bukti oleh tim Saber Pungli dari Mabes Poliri.

Namun hari kamis (06/04) ini mereka dapat sedikit lega karena Otoritas Pelabuhan Samarinda memastikan para buruh tersebut sudah dapat bekerja kembali, namun dengan upah hanya Rp 10 ribu per box. Ribuan buruh TKBM Komura sejak Operasi Tangkap Tangan resah menunggu kepastian untuk bekerja kembali di pelabuhan peti kemas palaran yang menjadi lokasi OTT tim Saber Pungli dari Mabes Polri dan tim Krimsus Polda Kaltim bulan Maret 2017 lalu.

Desakan agar mereka diperkerjakan kembali sebagai TKBM sejak dilakukanya operasi oleh tim saber pungli oleh bareskrim mabes polri 17 Maret lalu bukan tanpa alasan, mereka menganggur dan belum menerima upah kerja yang belum di bayar sampai hari ini. 

Kepala kantor Kesyahbandara dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda, Capt. Abdul Rochman setelah menemui para buruh dan Mandor TKBM Komura menjelaskan bahwa mulai besok (04/04) para buruh TKBM Komura bisa kembali berkerja seperti biasanya, namun upah yang selama ini yang diberikan tidak sesuai dari sebelumnya karena harus menyesuaiankan dengan peraturan Menteri nomor 6 tahun 2013 yang sebelumnya Rp. 180.000 perbox/kontainer jadi Rp. 10.000 per box dan menunggu penyesuaian tarif yang seharusnya. Upah Rp. 10.000 tersebut adalah tarif untuk masa transisi pasca operasi tim saber pungli bareskrim mabes polri, menunggu hasil kesepakatan dan kordinasi dari beberapa asosisi yang terlibat di pelabuhan peti kemas palaran, tutupnya. Buruh TKBM Komura yang jumlahnya hampir 1.300 orang ini tentunya harus bersabar dengan upah yang ditetapkan per box tersebut dan menunggu perbaikan dan penyesuaian tarif bongkar muat yang ada di pelabuhan samarinda. (Hardiyanto)


Tags:
Share:

Mr Borneo

Leave a Comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.